Rabu, 29 Juli 2009

SEJATINYA GURU

A. GURU DI MASA LALU
Profesi guru pada masa lalu merupakan profesi yang sangat mulia. Guru betul-betul menjadi sosok yang ‘digugu’ dan ‘ditiru’, walaupun bekal untuk menjadi guru saat itu bisa jadi hanya tamatan SLTP/SLTA dan mungkin juga sudah ada yang SPG/PGA. Namun dengan kesungguhan, keteladanan, dan pola mengajar mereka yang menggunakan hati, mereka para guru di masa lalu itu mampu menduduki kedudukan yang terhormat (Zaim Elmubarok, 2008: 80).
Karena para guru pada masa lampau itu memang benar-benar dapat dijadikan segala hal (tutur kata, keilmuan, ibadah, pergaulan bahkan cara berbusananya pun) maka masyarakat begitu kagum dan mendudukkannya pada posisi status social yang tinggi. Walaupun kenyataannya para guru itu hanya tamatan sekolah menengah yang bukan sekolah guru.
Masyarakat Indonesia dahulu tidak melihat tinggi rendahnya pendidikan melainkan bagaimana mereka bersikap dan berperilaku baik di mata masyarakat. Sejauh mana para guru tersebut dapat berbuat terutama terhadap anak didiknya.
Andre Hirata sebagai penulis novel Laskar Pelangi ikut memberikan gambaran keadaan guru di Indonesia di masa lampau.
Masyarakat Indonesia dahulu adalah masyarakat yang belum banyak terkontaminasi oleh kemajuan zaman dan teknologi. Mereka hanya percaya dengan segala bentuk ketulusan hati dan selalu berprasangka baik terhadap siapapun! Apalagi terhadap profesi guru, mereka akan begitu mengagumi. Bahkan di daerah-daerah luar Jawa ada yang menyebut guru dengan sebutan Tuan Guru. Sungguh sebutan yang teramat berharga.
Di sisi lain walaupun kesejahteraan guru belum dapat dipenuhi ketika itu, namun guru tidak pernah mengeluh. Karena guru telah mendapat kedudukan social yang relatif tinggi dan terhormat.

B. GURU DI MASA SEKARANG
Profesi guru di masa sekarang tidak semulia pada masa lalu. Hal ini disebabkan oleh 2 hal. Pertama sikap guru sendiri yang kurang profesional dalam melaksanakan tugasnya di kelas serta yang kedua tersebarnya kejadian-kejadian buruk yang dilakukan oleh guru melalui media-media yang pada masa lampau tidak terlalu banyak. Sebab terakhir inilah yang menyebabkan profesi guru dipukul rata oleh masyarakat sebagai kedudukan yang tak lagi bisa ‘digugu’ dan ‘ditiru. Padahal kalau kita lihat dari pendidikan yang diperoleh guru untuk menjalankan tugasnya sudah memenuhi kulafikasi tenaga guru yang profsional.
Sebab lain seperti dikutip oleh Zaim Elmubarok, bahwa guru-guru di Indonesia di masa sekarang ini pada umumnya mengajarnya jarang menggunakan pendekatan keteladanan yang istiqomah, tanpa menghadirkan hati dan kedetakan emosi guru-siswa yang kurang. Sebagai contoh seberapa banyak guru yang mengingkari apa yang sering dianjurkan pada siswa-siswinya, seberapa banyak pula guru yang tidak lagi dapat dijadikan teladan bagi siswa-siswinya.
C. KEDUDUKAN GURU
1. KEDUDUKAN GURU SEBAGAI PROFESIONAL
Jabatan guru sebagai profesional menuntut peningkatan kecakapan dan mutu keguruan secara berkesinambungan. Guru yang berkualitas profesional yaitu guru yang tahu secara mendalam tentang apa yang diajarkan, cakap dalam mengajarakannya secar efektif dan efisien dan guru tersebut mempunyai kepribadian yang mantap serta integritas diri yang tidak diragukan lagi.
Bagaimana cara guru untuk memperoleh kedudukan sebagai profesional? Tidak lain adalah dengan belajar, baik dari teori-teori tertulis maupun dengan melihat contoh langsung guru yang profesional di sekolah-sekolah di mana guru itu berada.

2. KEDUDUKAN GURU DALAM MASYARAKAT
Kedudukan guru di masyarakat berbeda di negara satu dengan negara lainnya. Di negara yang dsudah maju guru biasanya ditempatkan pada posisi yang penting dalam proses mencerdaskan bangsa. Namun hal semacam ini jarang kita temui di daerah perkotaan-perkotaan di negara yang sedang berkembang. Sedang didaerah-daerah pedesaannya kedudukan guru masih terjaga dengan baik.
Dalam masyarakat guru adalah sebagai pemimpin yang menjadi panutan atau teladan serta referen bagi masyarakat sekitar. Mereka adalah pemegang norma dan nilai-nialai yang harus dijaga dan dilaksanakan/ Ini dapat kita lihat bahwa betapa ucapan guru di mayarakat sengat berpengaruh bagi orang lain. Bukankah Ki Hajar Dewantara sendiri pernah menggambarkan peran guru itu seperi yang tertuang dalam uangkapannya : Ing Ngarso sung tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani

3. KEDUDUKAN GURU DI DALAM KELAS
Kedudukan guru di dalam kelasnya merupakan kedudukan gur yang paling vital. Karena guru ‘bersentuhan’ langsung dengan lapis masyarakat yang dapat langsung mengidolakannya dan juga dapat langsung merendahkannya.
Hal ini dikarenakan komunitas utama yang menjadi wilayah tugas guru adalah di dalam kelas untuk memberikan keteladanan, pengalaman serta ilmu pengetahuan kepada siswa-siswinya baik dalam situasi interaksi dalam kelas maupun interaksi di luar kelas.
Dalam situasi yang normal ketika guru menjalankan tugasnya di dalam kelas, guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai seorang yang mempunyai kewibawaan dan otoritas yang tinggi, guru harus mampu menguasai kelas dan bisa mengontrol siswa-siswinya. Ini semua membutuhkan sosok guru yang mempunyai integritas moral yang cukup tinggi. Bila integritas ini menurun, maka yang terjadi adalah aroganisme guru terhadap siswanya sendiri, sebuah pemaksaan-pemaksaan saja.

D. PENGHARGAAN MASYARAKAT KEPADA GURU
Pada umumnya penghargaan masyarakat terhadap prosfesi guru di Negara kita dibedakan menjadi dua, yakni penghargaan social dan penghargaan ekonomis. Penghargaan social didapat guru secara kauasalitas, berdasarkan jasa dan perilaku guru tersebut dalam masyarakat.
Penghargaan ekonomis yakni penghargaan atas peran guru dipandang dari seberapa besar gaji yang diterima oleh guru. Dengan kondisi gaji guru-guru sampai tahun 2008-an ini tidak mungkin sejahtera dalam ekonomi hanya dengan pekerjaan mengajarnya saja. Hal inilah yang menjdikan kurang maksimalnya guru dalam menjalankan tugas mengajarnya apalagi melakukan pengabdian pada masyarakat.
Dalam masyarakat kita sering mendapati kenyataan guru yang mengajar di sekian sekolah, guru yang juga berprofesi sebagai tukang ojek, penjual sayuran. Hal ini lebih banyak terjadi di wilayah perkotaan, karena biaya kebutuhan hidup tinggi sementara gaji yang diperoleh dari guru tidak sebanding dengan kebutuhannya. Sedang di desa-desa hal ini jarang seklai terjadi.
Kenyataan inilah yang pada akhirnya mendorong pemerintah untuk meningkatkan pendapatan guru melalui program sertifikasi-sertifikasi itu. Apakah setelah pendapatan naik kemudian pola pengajarannya akan profesional? Sebuah pertanyaan yang agak sulit untuk dijawab dengan kata-kata pasti
E. HARAPAN MASYARAKAT TERHADAP GURU DI MASA SEKARANG
Harapan masyarakat terhadap guru di masa sekarang ini adalah guru mampu meningkatkan kecakapan dan mutu keguruannya secara terus menerus sehingga berkembang sesuai tuntutan zaman (Moh. Uzer Usman,2008: 14)
Mengapa masyarakat berharap demikian? Karena siswa-siswi yang sekarang sedang menempuh pendidikan itu dibesarkan tidak untuk masa sekarang, tetapi untuk masa-masa yang akan datang yang perkembangan ilmu pengetahuan akan terjadi dengan dahsyatnya serta perubahan-perubahan perilaku masyarakat yang kian rentang mengarah ke ha-hal yang kurang menguntungkan.
Harapan masyarakat seperti di atas apabila terpenuhi dengan sendirinya penghargaan masyarakat akan meningkat pula. Secara ekonomis pula guru akan mendapatkan tunjang-tunjangan yang cukup memadai untuk bekal hidup di masyarakat.

Daftar Rujukan
Elmubarok, Zaim.2008. Membumikan Pendidikan Nilai, Mengumpulkan yang Terserak, Menyambung yang Terputus dan Menyatukan yang Tercerai. Bandung : Alfabeta
Usman, Moh Uzer. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar