JENIS DAN MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
I. PENDAHULUAN
Classroom action research (CAR) adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “penelitian-tindakan-penelitian-tindakan- dan seterusnya”, yang dilakukan secara secara terus menerus, dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi guru.
Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research. Keduanya merujuk pada hal yang sama.
II. JENIS PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Dalam bukunya Sharon Bodie Oja yang berjudul Collaborative Action Research: A Developmental Approach dijelaskan jenis-jenis penelitian tindakan kelas seperti di bawah ini:
1. Guru Sebagai Peneliti (Teacher As Researcher)
Bentuk penelitian tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan praktik mengajar guru dalam kelas. Guru terlibat dalam proses perencanaan, tindakan dan kegiatan refleksi. Guru memberikan masalah untuk dipecahkan, jika di luar peneliti yang terlibat, peran mereka adalah untuk membantu para guru seperti menguji praktik mengajar mereka.
Penelitian tindakan semacam ini hampir semuanya melibatkan guru itu sendiri. Guru menemukan masalahnya, kemudian menyusun rencana tindakannya, melakukan tindakan tersebut dan akhirnya akan merefleksikannya. Hal ini dapat dilakukan guru dengan banyak-banyak berbagi pengalaman mengajar beserta solusi-solusinya dengan sejawat. Dengan demikian masukan dari guru sejawat dapat dijadikan pertimbangan untuk mengembangkan tindakan selanjutnya.
2. Eksperimen Adminitrasi Sosial
Kelly (1986) dalam bukunya Sharon Bodie Oja yang berjudul Collaborative Action Research: A Developmental Approach menjelaskan model ini sebagai penelitian tindakan ini bertujuan untuk mempengaruhi kebijakan dan praktiknya, daripada guru yang menarik dalam refleksi pada prkatik mengajar mereka. Dalam model ini, para peneliti mengambil penelitian berbasis hipotesis. Tes dalam sebuah proyek eksperimen tindakan, dan evaluasi. Praktisi memiliki sedikit masukan dalam proses dan peneliti tetap keluar dari situasi di mana terjadi tindakan. Model ini jelas tidak memenuhi harapan kolaborasi, pengembangan profesional, dan fokus pada masalah-masalah yang praktis dengan cirri-ciri penelitian tindakan.
.
3. Penelitian Tindakan Terpadu secara Serentak
Penelitian ini dalam menentukan model penelitian tindakan yang kontribusinya untuk memecahkan masalah praktis dan ilmu pengetahuan. Seperti penelitian eksperimen sosial penelitian ini tidak saja konsen memberikan konstribusi terhadap teori, tetapi juga ‘mengijinkan’ praktisi untuk berbagi pengalaman dalam desain pembelajar Seperti guru-peneliti sebagai model, ia melibatkan guru dalam aksi dan refleksi dengan segera, tetapi situasi yang terjadi di bawah penyelidikan peneliti lain. Hal ini karena guru sebagai kolaborator mungkin belum sebagai inovator yang baik.
Penelitian melibatkan guru dan peneliti sekaligus dalam segala kegiatan perencanaan, tindakan, dan refleksi. Yang membedakan dengan penelitian tindakan yang lain adalah kegiatan tindakan dan refleksi langsung diamati dan dicatat oleh penelitian (di luar guru) yang bertindak sebagai kolaboratornya sehingga penelitian ini mampu menghasilkan konsep-konsep yang aplikatif.
4. Penelitian Tindakan Kolaborasi
Model penelitian tindakan ini berkembang dari proyek fund di Amerika Serikat, National Institute of Education. Penelitian model ini membawa bersama-sama guru, staf pengembang, dan / atau universitas fakultas dengan tujuan meningkatkan praktek, kontribusi terhadap teori pendidikan dan untu penyediaan tenaga pembangunan. Bentuk penelitian tindakan ini cenderung dilakukan tim yang mungkin tidak berbasis sekolah.
Tim ini akan mempublikasikan hasil penelitian dalam studinya dan proyek penelitian ini akan didokumentasikan dan dianalisis oleh peneliti lain.
Pada sumber yang lain, jenis penelitian tindakan kelas dibedakan menjadi 4, yakni (1) PTK diasnogtik, (2) PTK partisipan, (3) PTK empiris, dan (4) PTK eksperimental. Untuk lebih jelas, berikut dikemukakan secara singkat mengenai keempat jenis PTK tersebut
1. PTK Diagnostik
Yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosia dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
2. PTK Partisipan
Suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan panelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencacat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil panelitiannya. PTK partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah seperti halnya contoh pada butir a di atas. Hanya saja, di sini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
3. PTK Empiris
Yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari.
4. PTK Eksperimental
Yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatam belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegitan belajar-mengajar, dimungkin-kan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.
III. MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Ada beberapa model PTK yang sampai saat ini sering digunakan di dalam dunia pendidikan, di antaranya: (1) Model Kurt Lewin, (2) Model John Elliot, (3) Model Kemmis dan Mc Taggart, dan (4) Model Dave Ebbutt.
1. Model Kurt Lewin; di depan sudah disebutnya bahwa PTK pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946. konsep inti PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin ialah bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: (1) Perencanaan ( planning), (2) aksi atau tindakan (acting), (3) Observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting) (Lewin, 1990). Sementara itu, empat langkah dalam satu siklus yang dikemukakan oleh Kurt Lewin tersebut oleh Ernest T. Stringer dielaborasi lagi menjadi : (1) Perencanaan (planning), (2) Pelaksanaan (implementing), dan (3) Penilaian (evaluating) (Ernest, 1996).
2. Model Kemmis & McTaggart
Model Kemmis & McTaggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin sebagaimana yang diutarakan di atas. Hanya saja, komponen acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara implementasi acting dan observing merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua kegiatan haruslah dilakukan dalam satu kesatuan waktu, begitu berlangsungnya suatu tindakan begitu pula observasi juga harus dilaksanakan. Untuk lebih tepatnya, berikut ini dikemukakan bentuk designnya.
3. Model John Elliot
Model John Elliot; apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan). Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa rupa itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya, yaitu seperti dikemukakan berikut ini.
4. Model Dave Ebbut
Dave Ebbut setuju secara umum dengan ide Kemmis dan Elliot tetapi adad beberapa bagian yang ia tidak setuju. Dave Ebbut mengkaliam bahwa model spiral bukan jalan sepenuhnya untuk mendeskripsikan proses penelitian tindakan . Dia mencontohkan diagram seperti di bawah ini.
Penutup
Semoga semua guru di Indoensia dapat meneliti apa yang seharusnya diteliti oleh seorang guru
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar